Assalamualaikum ww...bagi yang berminat pesan jaket FSDI FIS UNP segera hub DPH periode 2009/2010...dan langsung daftarkan diri sekarang juga, jangan sampai ketinggalan...pendaftaran ditutup tanggal 22 okt 2010.
wassalam...
Rabu, 20 Oktober 2010
Sabtu, 16 Oktober 2010
SAPA FSDI FS UNP
Mahasisawa sebagai motor penggerak dan agen perubah dalam masyarakat memiliki ciri dinamis, kreatif,dan analitis merupakan aset bangsa yang sangat berharga..
Mahasiswa muslim memiliki kewajiban untuk menggali dan menuntut ilmu lebih banyak lagi. Namun tentunya harus ditopang dengan pengetahuan keislaman yang baik. Hal tersebut tidak sedikit kita dapatkan dalam wadah- wadah organisasi dan majelis yang ada.
Dari fakta diatas, maka kami selaku lembaga dakwah kampus resmi dikampus Universias Negeri Padang yang merupakan salah satu organisasi yang berada di Fakultas Ilmu- Ilmu Sosial, mulai tahun 1993 mulai aktif sebagai kegiatan keislaman,yang saat itu hanya beberapa orang saja yang aktif dalam lembaga ini. Selamjutnya seiring denga berjalanmya waktu, FSDI makin meningkatkan pelayana bagi mahasiswa dan terus meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Untuk menampung aspirsi anggotanya, FSDI memiliki struktur organisasi yang ditata dengan baik. Sebagai mana layaknya sebuah organisasi kampus, organisasi ini juga memiliki dewan penasehat dan dewan pembina. Dewan Pembina FSDI adalah berasal dari dosen
ADA APA DNGAN FSDI????????????
Di FSDI kita bukan hanya mendapatkan wawasan Organisasi, tapi kita juga mendapatkan sumber kekuatan seorang muslim untuk hidup bahagia, Dunia dan Akhirat,,,,,,,!! Jadi kalau ingin tau BuaaanyaaAK Soal FSDI kami siap menerima saudara semuaaa! Lewat RECRUTMENT dengan persyaratan mengikuti pelatihan – pelatihan yang kami angkatkan! Dan Saudara jangan ragu, BERGABUNGLAH!! Secepatnya dan kami siap melayani saudara selama Allah memberikan kami kekuatan untuk itu. Tepis Keraguan Dan Teruslah Melaju Demi Masa Depan Dan Cita-Citamu Dengan Usaha Dan Doa Serta Tetapkan Diri Pada Keridhaan Illahi.
Mahasiswa muslim memiliki kewajiban untuk menggali dan menuntut ilmu lebih banyak lagi. Namun tentunya harus ditopang dengan pengetahuan keislaman yang baik. Hal tersebut tidak sedikit kita dapatkan dalam wadah- wadah organisasi dan majelis yang ada.
Dari fakta diatas, maka kami selaku lembaga dakwah kampus resmi dikampus Universias Negeri Padang yang merupakan salah satu organisasi yang berada di Fakultas Ilmu- Ilmu Sosial, mulai tahun 1993 mulai aktif sebagai kegiatan keislaman,yang saat itu hanya beberapa orang saja yang aktif dalam lembaga ini. Selamjutnya seiring denga berjalanmya waktu, FSDI makin meningkatkan pelayana bagi mahasiswa dan terus meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Untuk menampung aspirsi anggotanya, FSDI memiliki struktur organisasi yang ditata dengan baik. Sebagai mana layaknya sebuah organisasi kampus, organisasi ini juga memiliki dewan penasehat dan dewan pembina. Dewan Pembina FSDI adalah berasal dari dosen
ADA APA DNGAN FSDI????????????
Di FSDI kita bukan hanya mendapatkan wawasan Organisasi, tapi kita juga mendapatkan sumber kekuatan seorang muslim untuk hidup bahagia, Dunia dan Akhirat,,,,,,,!! Jadi kalau ingin tau BuaaanyaaAK Soal FSDI kami siap menerima saudara semuaaa! Lewat RECRUTMENT dengan persyaratan mengikuti pelatihan – pelatihan yang kami angkatkan! Dan Saudara jangan ragu, BERGABUNGLAH!! Secepatnya dan kami siap melayani saudara selama Allah memberikan kami kekuatan untuk itu. Tepis Keraguan Dan Teruslah Melaju Demi Masa Depan Dan Cita-Citamu Dengan Usaha Dan Doa Serta Tetapkan Diri Pada Keridhaan Illahi.
Senin, 29 Maret 2010
ALLAH Tidak Ridha Kepada Orang yang Putus Asa
KEBIASAAN orang-orang besar yang dekat dengan Allah swt. adalah berjalan-jalan di sekelilingnya. Bukan sekadar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai perenungan lain. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.
Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.
"Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini,” suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas, “agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Oh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?"
Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak diberikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.
Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.
Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba saja datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."
Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.
Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan itu kedengaran lagi. Masih orang itu juga. "Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku," ratapnya.
Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya, lalu dia pun meneruskan perjalanannya.
Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya. Tapi setelah itu, ia membaca tulisan dalam kertas yang tersampir bersama bungkusan uang itu. "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. InsyaAllah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil."
Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.
Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia juga tidak pernah melupakan orang yang telah memberikan nasihat itu.
Sumber: saksi-online”165”
Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.
"Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini,” suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas, “agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Oh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?"
Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak diberikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.
Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.
Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba saja datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."
Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.
Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan itu kedengaran lagi. Masih orang itu juga. "Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku," ratapnya.
Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya, lalu dia pun meneruskan perjalanannya.
Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya. Tapi setelah itu, ia membaca tulisan dalam kertas yang tersampir bersama bungkusan uang itu. "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. InsyaAllah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil."
Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.
Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia juga tidak pernah melupakan orang yang telah memberikan nasihat itu.
Sumber: saksi-online”165”
Minggu, 22 November 2009
singkirkan prasangka
Aman dengan pransangka anda,namuan sebenarnya ia berbahaya di waktu yang panjang.Bila anda telah mampu melepaskannya prasangka,anda menemukan pandangan yang lebih jernih,keberanian untuk mengatasi masalah dan jalan yang lebih lebar.
Bila anda mengenakan kacamata,maka yang melihat tetaplah mata anda.Bukan katamata anda.Dan keaadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang berada di balik kacamata.
Bila anda mengenakan kacamata,maka yang melihat tetaplah mata anda.Bukan katamata anda.Dan keaadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang berada di balik kacamata.
Selasa, 02 Juni 2009
info keputrian

ASSALAMU'ALAIKUM
Kepada seluruh mahasiswi UNP pada umumnya, dan FIS khususnya. Jangan lupa ikuti loba Pizza Crearive yang diadakan oleh departemen keputrian FSDI ya...
Ada hadiah menarik menunggu ukhti. Segera daftarkan kelompoknya. syarat dan ketentuan lainnya hubungi Mahfudzah saniyah (susan) atau jamiati (ijem) sejarah 2007.
Kepada seluruh mahasiswi UNP pada umumnya, dan FIS khususnya. Jangan lupa ikuti loba Pizza Crearive yang diadakan oleh departemen keputrian FSDI ya...
Ada hadiah menarik menunggu ukhti. Segera daftarkan kelompoknya. syarat dan ketentuan lainnya hubungi Mahfudzah saniyah (susan) atau jamiati (ijem) sejarah 2007.
Langganan:
Postingan (Atom)

